Apel Pagi

Kira-kira sembilan tahun yang lalu. Pagi hari, di sebuah bumi perkemahan di daerah Sumadra, Garut.

Seorang anak kecil berdiri di depan ratusan adik kelasnya. Tangan kirinya mengapit megaphone, tangan kanannya memegang microphone. Dengan suara yang sudah mau habis dia mencoba mengatur barisan yang ada di depannya.

Sebetulnya ini bukan kerjaan dia. Karena untuk urusan apel pagi ini, sudah ada yang mengatur. Tapi berhubung jam terbang petugas apel pagi belum begitu banyak, dengan kata lain mereka masih kurang pengalaman, peserta apel yang notabene adalah anak-anak yang baru mengenyam pendidikan SMA sekitar 2 bulanan itu, tidak bisa diatur oleh mereka.

Nah si anak yang pegang megaphone, akhirnya hilang kesabarannya. Dan langsung mengambil alih komando. Di lapangan itu, kebetulan dia yang paling senior.

“Komando Saya ambil alih. Siap Grak!”

“Buat dua baris ke samping. Tolong kakak-kakak yang lain, bantu mengatur barisan. Yang masih di tenda, segera bergabung ke lapangan. Cukup satu orang saja yang piket”

“Yang baru bergabung, cepet rapihkan barisannya.”

Kurang lebih sepuluh menitan, dia sibuk mengatur barisan. Maklum, masih banyak peserta yang baru bergabung dari tendanya. Walau sudah banyak kakak-kakak yang mengatur barisan, ada saja anak yang ngebandel. Susah di atur. Nah, untuk urusan yang ngebandel atau telat masuk barisan, si anak yang pegang megaphone tadi, tidak segan-segan menghukum mereka dengan hukuman push-up satu set (sepuluh kali). Cowok atau cewek hukumannya sama. Sadis memang, tapi kadang hal itu perlu diberlakukan. Prinsip dia, disiplin perlu ditegakkan dan itu tidak mengenal bias gender.

“Balik kanan Grak! Maju jalan!”

Barisan itu dibawanya ke tengah-tengah lapangan.

“Berhenti!”

“Sekarang rentangkan tangannya. Terus, sampai barisan ini melebar ke ujung lapangan. Kakak-kakak yang lain, tolong bantu agar barisannya tetap rapih.”

Dalam waktu kurang dari 2 menit, kedua barisan itu sudah memanjang dan berujung di kedua pinggir lapangan.

“Untuk barisan yang dibelakang, balik kanan grak!”

“Ok, perhatian untuk semuanya. Sekarang kita akan melakukan operasi sapu bersih. Sekarang kalian maju sampai pinggir lapangan, dan ambil semua sampah yang ada di depan kalian. Lalu masukkan ke tempat sampah yang sudah di sediakan di pinggir lapangan. Laksanakan!”

Sontak terdengar suara-suara huuuuu! Hehehe, anak-anak tersebut nggak sadar apel tersebut di tujukan untuk membersihkan lapangan dari sampah. Sampah-sampah yang mereka hasilkan setelah semalam menggelar acara api unggun.

Sayang gw nggak nyimpen photo si anak kecil ketika dia lagi pegang megaphone. Tapi kalau penasaran seperti apa wajahnya sekarang, kalian bisa lihat di halaman about di blog ini :)

Selamat ulang tahun Pramuka :)