Ciri Khas Demonstrasi Di Indonesia (lanjutan)

Tidak suka dipaksa, tapi suka maksa.

Misal, meminta (yang cenderung memaksa) anggota DPR untuk menandatangani permintaan mereka. Apa bedanya pendemo dengan diktator. Sukanya maksa?

Anggota DPR atau pejabat itu bukan mewakili pendemo (saja). Mereka wakil rakyat keseluruhan, dan (mungkin) tidak semua rakyat sependapat dengan pendemo. Jadi jangan maksa. Aspirasi silahkan disampaikan, tapi jangan maksa.

Suka melanggar peraturan lalu lintas.

Naik motor tanpa helm. Naik bis diatap. Naik kendaraan melebihi kapasitas.

Buang sampah sembarangan.

Lihatlah di daerah tempat demonstrasi dilakukan. Pasti disana sampah berserakan. Apakah mereka tidak menyadari kalau apa yang mereka lakukan sudah membuat pekerjaan tukang sapu jalan bertambah berat. Jangan bilang itu sudah tugas mereka. Ingat mereka (tukang sapu jalan) dibayar dengan gaji harian yang tak seberapa.

Selama ini diberita yang disorot hanya unsur tuntutan pendemo saja. Padahal tingkah polah demonstran yang tidak simpatik juga harus diberitakan dengan segamblang-gamblangnya. Gw sudah enek sama perilaku para demonstran yang tidak simpatik. Lihatlah jakarta yang sudah macet, tiap hari tambah macet gara-gara demonstrasi di jalan-jalan protokol. Jangan bilang ini salah pemerintah, pendemo juga ikut bersalah menyengsarakan warga jakarta.

Hari ini ada isu lagi, jika BBM jadi dinaikkan akan ada demo besar-besaran dan akan ada kerusuhan seperti tahun 1998. Ini yang kalian inginkan?

3 thoughts on “Ciri Khas Demonstrasi Di Indonesia (lanjutan)

  1. cecep

    @Samsul: hehe. tapi tetep menurut gw demonstrasi bisa lebih baik dari sekarang. kalau demonstrasi spt akhir-akhir ini yang cenderung anarkis, akan semakin banyak orang yang benci sama demo-demo, spt gw ini :D

Comments are closed.