Bagi Anda yang sudah menggunakan linux agak lama mungkin sudah tidak asing lagi dengan oss, alsa, arts, esound, portaudio, jack, pulseaudio, gstreamer, phonon (ada yang terlewat?).
Buat saya sendiri daftar kata itu tidak asing lagi, tapi kalau ditanya bagaimana cara kerjanya, lalu mengapa distro linux demen banget gonta-ganti dari satu ke yang lainnya, ya saya terus terang saja bingung. Sebagai pengguna awam dan hanya memakai linux (bukan seorang hacker atau yang suka mengotak-atik source code linux), bagi saya yang terpenting semuanya berjalan sesuai keinginan saya. Saya gak terlalu peduli apa yang ada dibelakangnya, yang penting saya bisa dengerin suara mp3, dvd atau berkas multimedia lainnya.
Tapi dalam kenyataannya, setiap ada perpindahan dari oss ke alsa misalnya, ada saja aplikasi yang tidak kompatibel (yang sebelumnya bekerja dengan baik). Harus tuning sana sini lagi agar semuanya bisa berjalan dengan lagi seperti sebelumnya. Belum lagi masalah sound server di gnome dan kde, esound vs arts, atau sekarang mungkin gstreamer vs phonon. Wah bikin ribet, bikin bete juga.
Sudah hampir sepuluh taun berkenalan dengan linux (saya mulai kenal linux sekitar taun 1999), masalah suara ini kok gak beres-beres ya?
Silahkan baca tulisan di blog ini (linux audio confusing as ever) yang saya jadikan judul tulisan ini. Dan jika Anda memiliki ide untuk mengatasi masalah sound server ini, silahkan juga sampaikan di ubuntu brainstorm. Jadi jangan hanya ngomel seperti saya ini (maaf… hehe), tapi sampaikan juga ide Anda agar tim pengembang ubuntu bisa mendengarnya juga.