<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cecep Mahbub</title>
	<atom:link href="http://ngadimin.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ngadimin.org</link>
	<description>Mac, Linux, IT and other random things</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Jan 2011 06:36:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Dosa-dosa Pengendara Motor</title>
		<link>http://ngadimin.org/2011/01/01/dosa-dosa-pengendara-motor/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2011/01/01/dosa-dosa-pengendara-motor/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 16:47:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1729</guid>
		<description><![CDATA[Kalau Anda pengendara motor, pasti pernah melakukan salah satu hal dari yang saya tulis di bawah ini. Kadang perilaku salah ini dianggap lumrah karena dilakukan secara berjamaah dan berulang. Gak pake helm Bonceng anak gak dipakein helm Gak punya SIM &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2011/01/01/dosa-dosa-pengendara-motor/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau Anda pengendara motor, pasti pernah melakukan salah satu hal dari yang saya tulis di bawah ini. Kadang perilaku salah ini dianggap lumrah karena dilakukan secara berjamaah dan berulang.</p>
<ol>
<li> Gak pake helm</li>
<li> Bonceng anak gak dipakein helm</li>
<li>Gak punya SIM</li>
<li>Melewati batas garis di lampu merah</li>
<li>Nerobos lampu merah</li>
<li>Muter di puteran yang salah</li>
<li>Melawan arah</li>
<li>Saat macet ngambil jatah jalan arah lawan</li>
<li>Naik trotoar</li>
<li>Naik jembatan penyebrangan</li>
<li>Belok gak nyalain lampu sein</li>
<li>Nyalip zig-zag</li>
<li>Gak pasang kaca spion</li>
<li>Knalpot diganti dengan yang berisik</li>
<li>Lampu rem diganti jadi putih</li>
<li>Malem gak nyalain lampu</li>
<li>Ngabisin jalan saat neduh (di bawah fly over/jembatan penyebrangan)</li>
<li>Panik trus ngebut saat hujan turun</li>
<li>Boncengan lebih dari 2 orang</li>
<li>Anak diberdiriin saat dibonceng (biasanya ibunya ada dibelakang)</li>
<li>Bawa barang melebihi kapasitas</li>
<li>Bawa barang yg terlalu panjang (tangga/kayu panjang)<br />
UPDATE:</li>
<li>Bawa motor sambil nelpon/sms</li>
<li>Bawa motor sambil ngerokok</li>
</ol>
<h2>Dosa Combo</h2>
<p>Ngebut malem-malem nerobos lampu merah, trus melawan arah, nggak nyalain lampu, sambil boncengan 3 orang. Masih kurang dosanya? Jangan lupa knalpotnya sudah diganti pake knalpot yang berisik, gak pasang kaca spion, semuanya gak pake helm dan pastinya gak punya SIM karena yang bawa masih siswa SMP.</p>
<p>Luar biasa! Mungkin cuma ada di Indonesia.</p>
<h2>Dosa Berjamaah</h2>
<p>Sudah biasa berjamaah melewati garis batas di lampu merah. Ada satu nerobos lampu merah, lainnya ngikutin. Konvoi naik motor ke pengajian bukan pake helm, cukup pake sorban dan kopiah saja. Yang terakhir sudah ditulis di atas, rame-rame ngabisin jalur jalan ketika neduh di bawah fly over/jembatan penyebrangan.</p>
<h2>Yang Unik</h2>
<p>Jangan heran kalau yang salah malah lebih galak. Motor yang naik trotoar nglaksonin pejalan kaki. Yang ngelawan arah nggak mau ngasih jalan.</p>
<p>Jangan heran juga kalau ada genk motor. Yakinlah genk motor itu pada awalnya karena orang tua yang gak peduli sama anaknya. Gak percaya? Saya ambil contoh kecil. Ini bukan genk motor, tapi lumrah dan dianggap biasa.</p>
<ol>
<li>Masih SD/SMP sudah bawa motor (pasti gak punya SIM)</li>
<li>Anak kecil bawa motor, ngebonceng adiknya yang balita</li>
</ol>
<h2>Mengapa saya peduli?</h2>
<p>Karena perilaku serampangan ini berbahaya dan bisa menyebabkan kecelakaan. Kalau yang celaka si pelanggar sih gpp, mungkin ucap syukur alhamdulillah berkurang satu orang bodoh di negara ini. Berkendara sembarangan itu bukan hanya membahayakan si pelanggar, tapi juga membahayakan pengguna jalan lainnya.</p>
<h2>Catatan</h2>
<p>Sebelum ada yang protes, pengguna mobil juga sama suka melanggar aturan. Memang betul demikian adanya. Tapi di tulisan ini saya sedang ingin membahas dosa-dosa pengendara motor. Demikian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2011/01/01/dosa-dosa-pengendara-motor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Python Development di Snow Leopard</title>
		<link>http://ngadimin.org/2010/09/28/python-development-di-snow-leopard/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2010/09/28/python-development-di-snow-leopard/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Sep 2010 03:33:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemograman Python]]></category>
		<category><![CDATA[python]]></category>
		<category><![CDATA[snow leopard]]></category>
		<category><![CDATA[virtualenv]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1694</guid>
		<description><![CDATA[Sudah beberapa bulan ini, saya beralih profesi. Dari tukang jaga server, jadi tukang ngetik kode. Yang jelas bukan kode buntut. Aplikasi yang dikembangkan, memakai framework Django, yang berarti pula menggunakan bahasa pemograman Python. Berhubung baru saja upgrade harddisk dan sekalian &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2010/09/28/python-development-di-snow-leopard/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah beberapa bulan ini, saya beralih profesi. Dari tukang jaga server, jadi tukang ngetik kode. Yang jelas bukan kode buntut. Aplikasi yang dikembangkan, memakai framework Django, yang berarti pula menggunakan bahasa pemograman Python.</p>
<p>Berhubung baru saja upgrade harddisk dan sekalian merapikan instalasi Snow Leopard saya, jadi saya coba tuliskan apa yang saya install untuk pemograman python. Tentu sesuai dengan apa yang saya perlukan.</p>
<h3>XCode</h3>
<p>Hampir semua program dicompile manual. Jadi jelas saya membutuhkan paket compiler. Di Mac OSX disediakan di dalam satu paket besar XCode. Python &#038; Subversion sudah termasuk di dalamnya. Artinya secara dasar sudah mencukupi untuk keperluan saya.</p>
<h3>PIP, iPython dan VirtualEnv</h3>
<p>Saya pakai PIP, iPython dan VirtualEnv. PIP katanya lebih baik dibandingkan easy_install. Menurut saya itu sih masalah selera saja hahaha (becanda ya&#8230; <a href="http://www.google.co.id/search?q=easy_install+vs+pip">silahkan di google dulu perbandingan PIP vs Setuptools</a>). Kemudian iPython jelas harus diinstall karena memudahkan pekerjaan. Ngetik code di <em>python interactive console</em> jadi lebih mudah dengan iPython.</p>
<p><span id="more-1694"></span></p>
<p>Kalau menginstall iPython jangan lupa untuk menginstall modul readline. Python bawaan dari XCode katanya di link ke libedit (implementasi readline yg dipake Mac OSX). Dan entah bagaimana libedit ini sering bikin crash iPython. Saya beberapa kali mengalaminya saat saya mencoba melakukan tab completion. Solusi tersingkatnya ya override readline dengan modul readline yang tidak dilink ke libedit.</p>
<p>VirtualEnv adalah salah satu keperluan saya berikutnya. Paket ini mempermudah mengelola banyak proyek yang mungkin saja satu proyek dan lainnya membutuhkan environment yang berbeda. Misal proyek A, sudah berjalan dengan baik dengan Django versi 1.1 kalau di upgrade versi djangonya malah harus benerin banyak code misalnya, sedangkan proyek B membutuhkan Django versi 1.2. Nah, virtualenv bisa menyelesaikan masalah ini, karena bisa membuat dua lingkungan yang berbeda dan terpisah satu dan lainnya.</p>
<p>Ok. Singkat cerita yang harus di install adalah.</p>
<pre class="brush: bash; title: ; notranslate">
sudo easy_install pip
sudo easy_install readline
sudo pip install ipython
sudo pip install virtualenv
sudo pip install virtualenvwrapper
</pre>
<p>Yang terakhir saya install adalah paket yang mempermudah dalam mengelola virtualenv. Mungkin akan disambung dengan tulisan berikutnya. Mudah-mudahan masih semangat ngeblog lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2010/09/28/python-development-di-snow-leopard/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghitung Memori Yang Sekarang Sedang Digunakan oleh Aplikasi</title>
		<link>http://ngadimin.org/2010/06/29/menghitung-memori-yang-sekarang-sedang-digunakan-oleh-aplikasi/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2010/06/29/menghitung-memori-yang-sekarang-sedang-digunakan-oleh-aplikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jun 2010 13:11:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Linux]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[memory]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1680</guid>
		<description><![CDATA[Menghitung memori yang terpakai oleh sebuah program yang sedang berjalan di Linux itu agak ribet. Anda bisa melihat/menghitungnya dari output perintah ps, atau pmap. Tapi apa yang Anda lihat bukanlah apa yang terpakai. Harus dihitung dulu. Dan disini saya tidak &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2010/06/29/menghitung-memori-yang-sekarang-sedang-digunakan-oleh-aplikasi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menghitung memori yang terpakai oleh sebuah program yang sedang berjalan di Linux itu agak ribet. Anda bisa melihat/menghitungnya dari output perintah <tt>ps</tt>, atau <tt>pmap</tt>. Tapi apa yang Anda lihat bukanlah apa yang terpakai. Harus dihitung dulu. </p>
<p>Dan disini saya tidak sedang ingin membicarakan hal yang rumit. Yang rumit silakan di googling saja. Ada yang sudah berbaik hati, membuatkan <em>python script</em> yang bisa digunakan untuk menghitung alokasi memori per proses/aplikasi/program. </p>
<p>Ambil <a href="http://www.pixelbeat.org/scripts/ps_mem.py">ps_mem.py</a>, skrip yang sudah lama ada, tapi entah memang google yang menyembunyikannya, atau saya yang tidak mencari sehingga baru tahu hari ini <img src='http://ngadimin.org/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></p>
<pre class="brush: plain; light: true; title: ; notranslate">sudo ./ps_mem.py</pre>
<p>Berikut contoh hasil keluaran python script di atas, di jalankan di hostingan Linode VPS saya.</p>
<pre class="brush: plain; light: true; title: ; notranslate">
Private  +   Shared  =  RAM used       Program 

  4.0 KiB +  35.5 KiB =  39.5 KiB       getty
 28.0 KiB +  29.5 KiB =  57.5 KiB       atd
  4.0 KiB +  73.5 KiB =  77.5 KiB       upstart-udev-bridge
  0.0 KiB +  84.5 KiB =  84.5 KiB       udevd (3)
 96.0 KiB +  24.0 KiB = 120.0 KiB       dhclient3
 84.0 KiB +  58.5 KiB = 142.5 KiB       cron
116.0 KiB + 187.5 KiB = 303.5 KiB       master
264.0 KiB +  87.0 KiB = 351.0 KiB       ntpd
208.0 KiB + 201.5 KiB = 409.5 KiB       qmgr
256.0 KiB + 208.0 KiB = 464.0 KiB       tlsmgr
404.0 KiB +  84.5 KiB = 488.5 KiB       rsyslogd
348.0 KiB + 189.5 KiB = 537.5 KiB       pickup
480.0 KiB + 112.5 KiB = 592.5 KiB       init
  1.2 MiB +  55.5 KiB =   1.2 MiB       bash
764.0 KiB +   1.2 MiB =   1.9 MiB       sshd (3)
  2.1 MiB + 404.0 KiB =   2.5 MiB       python2.6
  2.6 MiB + 848.5 KiB =   3.4 MiB       nginx (5)
  4.2 MiB +   2.6 MiB =   6.8 MiB       apache2 (5)
 11.1 MiB + 117.5 KiB =  11.2 MiB       mysqld
 57.0 MiB + 562.0 KiB =  57.5 MiB       php5
---------------------------------
                         88.1 MiB
=================================
</pre>
<p>Tuh kan&#8230; yang boros itu php nya, bukan apachenya. Sebelum ada yang bertanya, saya pasang Nginx di depan Apache + suExec/FastCGI + php5.</p>
<p>Btw, di tempat mengunduh skript tadi banyak loh skrip lain yang menarik. Silakan <a href="http://www.pixelbeat.org/scripts/">dilihat-lihat</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2010/06/29/menghitung-memori-yang-sekarang-sedang-digunakan-oleh-aplikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keyboard Shortcut untuk BASH</title>
		<link>http://ngadimin.org/2010/05/31/keyboard-shortcut-untuk-bash/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2010/05/31/keyboard-shortcut-untuk-bash/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 16:50:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Linux]]></category>
		<category><![CDATA[bash]]></category>
		<category><![CDATA[shortcut]]></category>
		<category><![CDATA[terminal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1674</guid>
		<description><![CDATA[Pernah merasakan menderitanya pergi ke awal baris hanya untuk memperbaiki salah ketik di Terminal? Apalagi kalau koneksi yang digunakan tipikal GPRS yang gak stabil, bisa makin bete saja. Biasanya kalau sudah begini, cara bodohnya saya cancel perintah tersebut, kemudian saya &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2010/05/31/keyboard-shortcut-untuk-bash/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah merasakan menderitanya pergi ke awal baris hanya untuk memperbaiki salah ketik di Terminal? Apalagi kalau koneksi yang digunakan tipikal GPRS yang gak stabil, bisa makin bete saja.</p>
<p>Biasanya kalau sudah begini, cara bodohnya saya <em>cancel</em> perintah tersebut, kemudian saya buka aplikasi note (notepad misalnya kalau di Windows, atau apapun yang bisa dipake untuk nulis), lalu mengetikkan semua perintah disana (pasti lebih cepet kan). Salin perintah tersebut dan tempelkan (<em>paste</em>) ke Terminal yang sedang terkoneksi ke <em>remote</em> server.</p>
<p>Cara lain yang saya gunakan (setelah hilang malesnya), adalah menghafal  beberapa <em>keyboard shorcut</em> yang bisa digunakan untuk BASH. Tidak perlu semuanya dihafal, pilih beberapa saja. Misal, favorit saya cuma 3 <em>shortcut</em>.</p>
<ol>
<li><strong>CTRL + a</strong> &#8211; Untuk pergi ke awal baris</li>
<li><strong>CTRL + e</strong> &#8211; Untuk pergi ke akhir baris</li>
<li><strong>CTRL + k</strong> &#8211; Untuk menghapus semua karakter di kanan kursor</li>
</ol>
<p>Dengan tiga <em>shortcut</em> itu saja, saya bisa lebih efesien bekerja di Terminal. Mau yang lebih lengkap, silakan dilihat di <a href="http://www.howtogeek.com/howto/ubuntu/keyboard-shortcuts-for-bash-command-shell-for-ubuntu-debian-suse-redhat-linux-etc/">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2010/05/31/keyboard-shortcut-untuk-bash/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ubuntu 10.04 LTS &#8211; Lucid Lynx sudah dirilis</title>
		<link>http://ngadimin.org/2010/04/30/ubuntu-10-04-lts-lucid-lynx-sudah-dirilis/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2010/04/30/ubuntu-10-04-lts-lucid-lynx-sudah-dirilis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 20:01:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berbagi Tautan]]></category>
		<category><![CDATA[lucid]]></category>
		<category><![CDATA[lynx]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1668</guid>
		<description><![CDATA[Sekedar meramaikan saja, informasi yang mungkin sudah Anda ketahui. Yang dinanti-nanti Ubuntu 10.04 LTS &#8211; Lucid Lynx sudah resmi dirilis. Silakan baca informasi rilis dan catatan rilis. Untuk pengguna internet Indonesia, dl2.foss-id.web.id sudah menyediakan iso lengkap untuk semua edisi (Desktop, &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2010/04/30/ubuntu-10-04-lts-lucid-lynx-sudah-dirilis/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ngadimin.org/wp-content/uploads/2010/04/1004header.jpg" alt="" title="1004header" width="500" height="111" class="aligncenter size-full wp-image-1670" /></p>
<p>Sekedar meramaikan saja, informasi yang mungkin sudah Anda ketahui. Yang dinanti-nanti Ubuntu 10.04 LTS &#8211; Lucid Lynx sudah resmi dirilis. Silakan baca <a href="http://fridge.ubuntu.com/node/2030">informasi rilis</a> dan <a href="http://www.ubuntu.com/getubuntu/releasenotes/1004">catatan rilis</a>.</p>
<p>Untuk pengguna internet Indonesia, <a href="ftp://dl2.foss-id.web.id/iso/ubuntu/releases/10.04">dl2.foss-id.web.id</a> sudah menyediakan iso lengkap untuk semua edisi (Desktop, Netbook atau pun Server). Mirror lain sepertinya tinggal menunggu waktu saja. Informasi mirror lokal ini saya rangkumkan di halaman <a href="http://pakelinux.com/mirror/ubuntu/">mirror lokal Ubuntu</a>.</p>
<p>Ada bugs yang ditemukan di saat-saat terakhir sebelum rilis, seperti yang tertulis di <a href="https://wiki.ubuntu.com/IncidentReports/2010-04-29-Late-respin-for-bug-570765">incident report</a> wiki Ubuntu.</p>
<blockquote><p>We had a late discovery of GRUB bootloader bug affecting dual-boot users of Ubuntu. When installing in a dual-boot environment, the other operating system will not appear at first in the GRUB menu. Installing the available updates and rebooting will fix this issue. However, it was determined the day of the release that this is not an optimal solution for new users or those not connected to the Internet. </p></blockquote>
<p>Saya belum mencoba, apakah iso installer yang sudah masuk ke mirror dl2.foss-id.web.id masih memiliki bugs ini atau tidak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2010/04/30/ubuntu-10-04-lts-lucid-lynx-sudah-dirilis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Then and Now</title>
		<link>http://ngadimin.org/2010/04/25/then-and-now/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2010/04/25/then-and-now/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 15:56:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Opini]]></category>
		<category><![CDATA[desktop]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1656</guid>
		<description><![CDATA[Membaca planet Ubuntu, sepertinya lagi rame nampilin desktop jaman dulu dan desktop jaman sekarang. Then and Now, My Desktop: Then and Now, Then and Now Meme dan masih banyak lagi. Silakan lihat sendiri di planet Ubuntu. Kalau mengenang jaman lalu, &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2010/04/25/then-and-now/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca planet Ubuntu, sepertinya lagi rame nampilin desktop jaman dulu dan desktop jaman sekarang. <a href="http://leogg.wordpress.com/2010/04/23/then-and-now/">Then and Now</a>, <a href="http://family.ubuntu-fl.org/mhall/my-desktop-then-and-now/">My Desktop: Then and Now</a>, <a href="http://jonathancarter.co.za/2010/04/24/then-and-now-meme/">Then and Now Meme</a> dan masih banyak lagi. Silakan lihat sendiri di <a href="http://planet.ubuntu.com/">planet Ubuntu</a>. </p>
<p>Kalau mengenang jaman lalu, saya pertama kali kenal justru FreeBSD. Kalau tidak salah versi pertama yang saya kenal itu FreeBSD 2.2.8. Maklum kampus tempat saya ngekost, mayoritas menganut mahzab FreeBSD. Jadi oleh senior-senior, saya juga diajarkan FreeBSD juga. Dan rasa-rasanya saya juga belum pernah memakai FreeBSD ini untuk desktop, di jaman itu terlalu nekad kalau menggunakan FreeBSD buat dekstop.</p>
<p>Kalau linux, pertama kali ngelihat kayaknya RedHat versi 5.2 (agak lupa juga persisnya). Trus lebih sering berkutat dengan Mandrake 6.1 dan versi berikutnya s.d tahun 2003 (tentu diselang-seling dengan distro lain untuk coba-coba). Setelah itu berkenalan dengan Gentoo. Saat pake linux Gentoo lah saya mulai ngeblog, dan salah satu screenshot terlama yang pernah tercatat di blog ini bisa Anda lihat di bawah ini.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a title="Desktop Screenshot 3 April 2004 by Cecep Mahbub, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/ngadimin/265981046/"><img src="http://farm1.static.flickr.com/106/265981046_401a2561a4.jpg" alt="Desktop Screenshot 3 April 2004" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">Desktop Screenshot 3 April 2004, Gentoo dengan Gnome 2.4.2</p></div>
<p>Kembali lagi ke linux jaman dulu. Linux jaman dulu memang tidak senyaman sekarang. Apalagi kalau berhubungan dengan dunia multimedia. Saat menggunakan Mandrake 6.1 linux hanya bisa muter mp3 (beruntung waktu itu sudah ada xmms). Trus untuk muter VCD susahnya minta ampun. Biasanya saya copy file .dat lalu diputer pakai mpg123. Itu pun dengan resolusi yang gak bisa di bikin full screen. </p>
<p>Office, Excel? wah masa-masa sebelum openoffice lahir adalah masa kegelapan buat linux. Jadi jangan tanya bagaimana repotnya bertukar dokumen dengan pengguna OS lain. Browser juga sama. Yang terbaik waktu itu hanya Netscape 4.x yang sangat-sangat berat untuk dijalankan. Buka beberapa windows saja, sudah terasa berat (waktu itu belum ada tab ya). Jadi internet di linux sebelum firefox adalah masa kegelapan juga.</p>
<p>Satu lagi yang terasa agak lucu juga. Entah sampai tahun kapan linux punya masalah ini. Di linux itu kalau mau membuka atau nge-mount CD itu susahnya minta ampun (artinya harus di mount manual gitu loh). Mandrake pernah membuat inovasi yang samanya supermount, tapi tidak pernah bisa berjalan dengan sempurna, seseringnya crash. </p>
<p>Oke-oke cukup nostalgianya. Saya tidak akan cerita bagaimana kenalan dengan Debian dan Ubuntu. Terlalu panjang ceritanya. Sekarang mari kita sambut Ubuntu 10.04 LTS yang beberapa hari lagi akan di rilis. Mudah-mudahan saya ada waktu untuk mencicipinya. Sudah tujuh bulan lebih saya jarang berinteraksi dengan Linux di desktop. Tulisan ini pun saya tulis di Mac OS X Snow Leopard <img src='http://ngadimin.org/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2010/04/25/then-and-now/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari tahu besar email yang bisa diterima oleh server tujuan</title>
		<link>http://ngadimin.org/2010/03/11/mencari-tahu-besar-email-yang-bisa-diterima-oleh-server-tujuan/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2010/03/11/mencari-tahu-besar-email-yang-bisa-diterima-oleh-server-tujuan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 15:24:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngoprek]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Linux]]></category>
		<category><![CDATA[email]]></category>
		<category><![CDATA[size]]></category>
		<category><![CDATA[telnet]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1631</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin suatu ketika Anda ingin mengirim email ke seorang teman dengan alamat email tertentu. Dan dalam email itu Anda ingin menyertakan beberapa berkas dokumen yang lumayan besar. Sekarang permasalahannya apakah server tujuan bisa menerima email Anda atau tidak. Karena email &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2010/03/11/mencari-tahu-besar-email-yang-bisa-diterima-oleh-server-tujuan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin suatu ketika Anda ingin mengirim email ke seorang teman dengan alamat email tertentu. Dan dalam email itu Anda ingin menyertakan beberapa berkas dokumen yang lumayan besar.</p>
<p>Sekarang permasalahannya apakah server tujuan bisa menerima email Anda atau tidak. Karena email server biasanya membatasi besar email yang bisa diterima. Bisa saja Anda kirim dulu dengan perkiraan kalau kelebihan, nanti ada pesan bounce/error dari server tujuan. Tapi masa kirim email kok pakai coba-coba (halah kemakan iklan nih, hahaha).</p>
<p>Dari pada coba-coba mending kita tanya ke servernya langsung. Misal, kita ingin tahu berapa besar email yang bisa diterima oleh domain cbn.net.id.</p>
<p>Pertama cari tahu dulu, server mana yang harus kita cek. Mau kirim email kan? Cek MX record untuk domain tersebut.</p>
<pre class="brush: plain; light: true; title: ; notranslate">
dig mx cbn.net.id

[dipotong...]
;; ANSWER SECTION:
cbn.net.id.             8185    IN      MX      20 mx.cbn.net.id.
[dipotong...]
</pre>
<p>Dapet, server yang harus di cek adalah mx.cbn.net.id, sekarang mari kita tanya ke servernya.</p>
<pre class="brush: plain; light: true; title: ; notranslate">
telnet mx.cbn.net.id 25

Trying 125.208.145.26...
Connected to mx.cbn.net.id.
Escape character is '^]'.
220 mx.cbn.net.id ESMTP
helo cecep.ngadimin.org
250 mx.cbn.net.id
ehlo cecep.ngadimin.org
250-mx.cbn.net.id
250-8BITMIME
250-SIZE 10485760
</pre>
<p>Servernya jawab, kalau email yang bisa dia terima itu besarnya 10485760 byte (~10MB). </p>
<p>Dengan cara yang sama kita bisa tahu kalau gmail bisa menerima email s.d ~35MB, Hotmail 29MB, ngadimin.org ~35MB (dihosting di google jg, pake google apps).</p>
<p><strong>Catatan:</strong> tidak semua server bisa dicek seperti itu. Seperti yahoo misalnya, begitu di telnet langsung di close (kayaknya dia pakai proteksi semacam greylisting). Dan tidak semua smtp server memberikan informasi SIZE yang kita tanya tadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2010/03/11/mencari-tahu-besar-email-yang-bisa-diterima-oleh-server-tujuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencoba Kembali Paket Internet dari IM2</title>
		<link>http://ngadimin.org/2010/01/23/mencoba-kembali-paket-internet-dari-im2/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2010/01/23/mencoba-kembali-paket-internet-dari-im2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 15:04:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Opini]]></category>
		<category><![CDATA[im2]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[mobi]]></category>
		<category><![CDATA[smart]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1624</guid>
		<description><![CDATA[Setelah berhenti berlangganan IM2 sekitar 7 bulan yang lalu, dan berganti ke SMART, hari ini saya mencoba menjajaki kembali layanan Internet dari IM2. Penyebabnya sederhana, layanan Internet dari SMART yang saya gunakan sudah mulai masuk ke tahap yang agak menyebalkan &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2010/01/23/mencoba-kembali-paket-internet-dari-im2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah berhenti berlangganan IM2 sekitar 7 bulan yang lalu, dan berganti ke SMART, hari ini saya mencoba menjajaki kembali layanan Internet dari IM2. Penyebabnya sederhana, layanan Internet dari SMART yang saya gunakan sudah mulai masuk ke tahap yang agak menyebalkan juga. Mungkin di daerah kost-kostan saya (sekitar Mega Kuningan Jakarta), sudah terlalu penuh sesak sama pemakai SMART.</p>
<div id="attachment_1627" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://ngadimin.org/wp-content/uploads/2010/01/im2.jpeg"><img src="http://ngadimin.org/wp-content/uploads/2010/01/im2.jpeg" alt="" title="im2" width="400" height="238" class="size-full wp-image-1627" /></a><p class="wp-caption-text">IM2 Broom Bastis!</p></div>
<p><strong>Membeli Paket Prabayar IM2</strong></p>
<p>Langkah pertama, saya mencari kartu perdana prabayar IM2. Tadinya saya mau ke Plasa Semanggi, disana kan ada counter IM2 Broadband Center. Tapi karena kepikiran mo sekalian belanja di Carrefour saya pilih ke Ambasador saja.</p>
<p><span id="more-1624"></span><br />
Saya beli di counter Koepoe Koepoe di lantai satu. Satu-satunya tempat yang saya temui yang menjual paket IM2. Di atas sih ada banyak yang jual SMART, rata-rata dibundel sama paket modem EVDO nya, selain tentu bisa juga beli di Gallery SMART di Lantai 3. </p>
<p>Ok, balik lagi ke cerita membeli paket prabayar. Selama saya mengaktivasi IM2, ada banyak orang yang membeli modem MOBI &#038; SMART. Luar biasa, sepertinya animo warga Jakarta untuk menikmati layanan Internet sangat besar. Dan wajar juga koneksi SMART saya semakin dodol surodol <img src='http://ngadimin.org/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Yang beli IM2? gak ada! Malah si penjaga counternya juga seolah tidak percaya masih ada yang mencari paket IM2. Hahaha. Sepertinya IM2 sudah mendapatkan karma, seperti sudah diberi label layanan internetnya sering error, lambat dan lainnya yang jelek-jelek. Seperti yang terekam di blog ini, <a href="http://ngadimin.org/2009/02/23/indosatm2-dibantai-di-detik/">IndosatM2 dibantai di detik</a> atau <a href="http://ngadimin.org/2009/01/22/sejak-promo-murah-koneksi-im2-sangat-tidak-stabil/">Sejak Promo Murah Koneksi IM2 Sangat Tidak Stabil</a>.</p>
<p><strong>Koneksi Internet IM2</strong></p>
<p>Saya sudah memakainya selama 3 jam lebih. Dan selama pemakaian ini tidak ada permasalahan. Waktu dial lancar, setelah terkoneksi gak masalah. Sinyal selalu stabil di HSDPA, kecepatan internet juga stabil di kisaran 256kbps seperti yang dijanjikan (saya mengaktifkan paket unlimited yang dibatasi di 256kbps).</p>
<p>Hasil test dari speedtest.net bisa dilihat di bawah ini.</p>
<p><img src="http://www.speedtest.net/result/692058613.png" alt="Speed Test" /></p>
<p>Untuk sementara ini, saya kira IM2 berhasil memperbaiki kinerjanya. SMART dan MOBI yang sekarang lagi booming dengan paket unlimited dan kecepatan yang luar biasa (dulu saya sering dapet kecepatan lebih dari 1 Mbps), harusnya secara rutin mereview kapasitas internet mereka. Baik dari segi perangkat jaringan/BTS ataupun dari bandwidth internet di backbone internet mereka. </p>
<p>Layanan unlimited seringkali manis di awal, tapi menderita di akhir. Di awal tahun 2009, waktu rame-ramenya masalah kapasitas IM2 yang overload, banyak pakar internet termasuk dari pihak regulator yang mengusulkan adanya standar layanan untuk internet broadband. Tapi entah sudah sampai mana itu dijabarkan. Seringnya terlupakan dengan alasan klasik, itu program mentri yang lama <img src='http://ngadimin.org/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2010/01/23/mencoba-kembali-paket-internet-dari-im2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau SMART lagi layak pakai</title>
		<link>http://ngadimin.org/2009/12/17/kalau-smart-lagi-layak-pakai/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2009/12/17/kalau-smart-lagi-layak-pakai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 17:02:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1612</guid>
		<description><![CDATA[Beginilah seharusnya internet yang layak pakai itu. Sayangnya tidak setiap waktu dapet koneksi seperti ini. UPDATE: 17 Desember 2009 jam 10:56, di Garut dapet EVDO 1536kbps huhuy! Kayaknya yang di sekitar kost-kostan di Jakarta populasinya sudah terlalu padat hahaha.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-1614" title="Screen shot 2009-12-16 at 11.41.37 PM" src="http://ngadimin.org/wp-content/uploads/2009/12/Screen-shot-2009-12-16-at-11.41.37-PM1.png" alt="Screen shot 2009-12-16 at 11.41.37 PM" width="500" height="364" /></p>
<p>Beginilah seharusnya internet yang layak pakai itu. Sayangnya tidak setiap waktu dapet koneksi seperti ini. </p>
<p>UPDATE: 17 Desember 2009 jam 10:56, di Garut dapet EVDO 1536kbps huhuy! Kayaknya yang di sekitar kost-kostan di Jakarta populasinya sudah terlalu padat hahaha.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2009/12/17/kalau-smart-lagi-layak-pakai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Django DebugFooter Middleware</title>
		<link>http://ngadimin.org/2009/11/26/django-debugfooter-middleware/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2009/11/26/django-debugfooter-middleware/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 18:34:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Linux]]></category>
		<category><![CDATA[django]]></category>
		<category><![CDATA[snippet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1602</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingin memasang DebugFooter di django. Dan ternyata malah muncul error: Setelah googling, dan menemukan artikel backwards-incompatible changes dari versi 0.96 ke 1.0, dibagian Signal refactoring dijelaskan ada perubahan kode. Singkat cerita, saya akhirnya bisa memasang DjangoFooter middleware. Saya pakai &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2009/11/26/django-debugfooter-middleware/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya ingin memasang <a href="http://www.djangosnippets.org/snippets/766/">DebugFooter</a> di django. Dan ternyata malah muncul error: </p>
<pre class="brush: plain; title: ; notranslate">
[Wed Nov 25 20:28:01 2009] [error] [client 127.0.0.1]     response = middleware_method(request)
[Wed Nov 25 20:28:01 2009] [error] [client 127.0.0.1]   File &quot;/sites/blog/../blog/debug_middleware.py&quot;, line 100, in process_r
equest
[Wed Nov 25 20:28:01 2009] [error] [client 127.0.0.1]     dispatcher.connect(
[Wed Nov 25 20:28:01 2009] [error] [client 127.0.0.1] AttributeError: 'module' object has no attribute 'connect'
</pre>
<p>Setelah googling, dan menemukan artikel <a href="http://code.djangoproject.com/wiki/BackwardsIncompatibleChanges">backwards-incompatible changes</a> dari versi 0.96 ke 1.0, dibagian Signal refactoring dijelaskan ada perubahan kode. </p>
<p>Singkat cerita, saya akhirnya bisa memasang DjangoFooter middleware. Saya pakai <a href="http://www.djangosnippets.org/snippets/799/">versi yang sedikit diubah</a>, lalu saya sempurnakan lagi agar berfungsi dengan baik di django 1.0 ke atas.</p>
<p>Kodenya bisa Anda lihat di djangosnippets <a href="http://www.djangosnippets.org/snippets/1816/">1816</a>.</p>
<p><strong>Cara Pakai</strong></p>
<p>Misal, project yang Anda buat di django adalah blog, dan path nya di /sites/blog. Simpan kode tadi ke /sites/blog/debug_middleware.py.</p>
<p>Lalu tambahkan di /sites/blog/settings.py</p>
<pre class="brush: python; title: ; notranslate">
MIDDLEWARE_CLASSES = (
    ...
    'blog.debug_middleware.DebugFooter',
)
</pre>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2009/11/26/django-debugfooter-middleware/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced (User agent is rejected)

Served from: ngadimin.org @ 2012-05-29 14:28:11 -->
