Tag Archives: linux

Menghitung Memori Yang Sekarang Sedang Digunakan oleh Aplikasi

Menghitung memori yang terpakai oleh sebuah program yang sedang berjalan di Linux itu agak ribet. Anda bisa melihat/menghitungnya dari output perintah ps, atau pmap. Tapi apa yang Anda lihat bukanlah apa yang terpakai. Harus dihitung dulu.

Dan disini saya tidak sedang ingin membicarakan hal yang rumit. Yang rumit silakan di googling saja. Ada yang sudah berbaik hati, membuatkan python script yang bisa digunakan untuk menghitung alokasi memori per proses/aplikasi/program.

Ambil ps_mem.py, skrip yang sudah lama ada, tapi entah memang google yang menyembunyikannya, atau saya yang tidak mencari sehingga baru tahu hari ini :P

sudo ./ps_mem.py

Berikut contoh hasil keluaran python script di atas, di jalankan di hostingan Linode VPS saya.

Private  +   Shared  =  RAM used       Program 

  4.0 KiB +  35.5 KiB =  39.5 KiB       getty
 28.0 KiB +  29.5 KiB =  57.5 KiB       atd
  4.0 KiB +  73.5 KiB =  77.5 KiB       upstart-udev-bridge
  0.0 KiB +  84.5 KiB =  84.5 KiB       udevd (3)
 96.0 KiB +  24.0 KiB = 120.0 KiB       dhclient3
 84.0 KiB +  58.5 KiB = 142.5 KiB       cron
116.0 KiB + 187.5 KiB = 303.5 KiB       master
264.0 KiB +  87.0 KiB = 351.0 KiB       ntpd
208.0 KiB + 201.5 KiB = 409.5 KiB       qmgr
256.0 KiB + 208.0 KiB = 464.0 KiB       tlsmgr
404.0 KiB +  84.5 KiB = 488.5 KiB       rsyslogd
348.0 KiB + 189.5 KiB = 537.5 KiB       pickup
480.0 KiB + 112.5 KiB = 592.5 KiB       init
  1.2 MiB +  55.5 KiB =   1.2 MiB       bash
764.0 KiB +   1.2 MiB =   1.9 MiB       sshd (3)
  2.1 MiB + 404.0 KiB =   2.5 MiB       python2.6
  2.6 MiB + 848.5 KiB =   3.4 MiB       nginx (5)
  4.2 MiB +   2.6 MiB =   6.8 MiB       apache2 (5)
 11.1 MiB + 117.5 KiB =  11.2 MiB       mysqld
 57.0 MiB + 562.0 KiB =  57.5 MiB       php5
---------------------------------
                         88.1 MiB
=================================

Tuh kan… yang boros itu php nya, bukan apachenya. Sebelum ada yang bertanya, saya pasang Nginx di depan Apache + suExec/FastCGI + php5.

Btw, di tempat mengunduh skript tadi banyak loh skrip lain yang menarik. Silakan dilihat-lihat.

Then and Now

Membaca planet Ubuntu, sepertinya lagi rame nampilin desktop jaman dulu dan desktop jaman sekarang. Then and Now, My Desktop: Then and Now, Then and Now Meme dan masih banyak lagi. Silakan lihat sendiri di planet Ubuntu.

Kalau mengenang jaman lalu, saya pertama kali kenal justru FreeBSD. Kalau tidak salah versi pertama yang saya kenal itu FreeBSD 2.2.8. Maklum kampus tempat saya ngekost, mayoritas menganut mahzab FreeBSD. Jadi oleh senior-senior, saya juga diajarkan FreeBSD juga. Dan rasa-rasanya saya juga belum pernah memakai FreeBSD ini untuk desktop, di jaman itu terlalu nekad kalau menggunakan FreeBSD buat dekstop.

Kalau linux, pertama kali ngelihat kayaknya RedHat versi 5.2 (agak lupa juga persisnya). Trus lebih sering berkutat dengan Mandrake 6.1 dan versi berikutnya s.d tahun 2003 (tentu diselang-seling dengan distro lain untuk coba-coba). Setelah itu berkenalan dengan Gentoo. Saat pake linux Gentoo lah saya mulai ngeblog, dan salah satu screenshot terlama yang pernah tercatat di blog ini bisa Anda lihat di bawah ini.

Desktop Screenshot 3 April 2004

Desktop Screenshot 3 April 2004, Gentoo dengan Gnome 2.4.2

Kembali lagi ke linux jaman dulu. Linux jaman dulu memang tidak senyaman sekarang. Apalagi kalau berhubungan dengan dunia multimedia. Saat menggunakan Mandrake 6.1 linux hanya bisa muter mp3 (beruntung waktu itu sudah ada xmms). Trus untuk muter VCD susahnya minta ampun. Biasanya saya copy file .dat lalu diputer pakai mpg123. Itu pun dengan resolusi yang gak bisa di bikin full screen.

Office, Excel? wah masa-masa sebelum openoffice lahir adalah masa kegelapan buat linux. Jadi jangan tanya bagaimana repotnya bertukar dokumen dengan pengguna OS lain. Browser juga sama. Yang terbaik waktu itu hanya Netscape 4.x yang sangat-sangat berat untuk dijalankan. Buka beberapa windows saja, sudah terasa berat (waktu itu belum ada tab ya). Jadi internet di linux sebelum firefox adalah masa kegelapan juga.

Satu lagi yang terasa agak lucu juga. Entah sampai tahun kapan linux punya masalah ini. Di linux itu kalau mau membuka atau nge-mount CD itu susahnya minta ampun (artinya harus di mount manual gitu loh). Mandrake pernah membuat inovasi yang samanya supermount, tapi tidak pernah bisa berjalan dengan sempurna, seseringnya crash.

Oke-oke cukup nostalgianya. Saya tidak akan cerita bagaimana kenalan dengan Debian dan Ubuntu. Terlalu panjang ceritanya. Sekarang mari kita sambut Ubuntu 10.04 LTS yang beberapa hari lagi akan di rilis. Mudah-mudahan saya ada waktu untuk mencicipinya. Sudah tujuh bulan lebih saya jarang berinteraksi dengan Linux di desktop. Tulisan ini pun saya tulis di Mac OS X Snow Leopard :D

Rutinitas Setelah Instalasi Desktop Linux

Coba Anda perhatikan, tentunya buat yang pernah menginstal desktop linux, ada beberapa hal rutin yang biasa dilakukan setelah instalasi linux untuk keperluan desktop.

  • Atur repositori, kalau bisa ada pakai mirror lokal di Indonesia. Hemat bandwidth dan jauh lebih cepet.
  • Instal codec-codec multimedia. Biar bisa dengerin musik, memainkan berkas mp3.
  • Instal codec multimedia untuk film, tidak lupa untuk menginstal VLC juga.
  • Instal plugin di firefox, yang paling penting instal flash-plugin dan jre. Plugin lainnya rasanya bisa diabaikan (ada yang masih suka baca pdf di browser?
  • Instal font windows, biar ngewebnya bisa lebih enak dilihat mata.
  • Yang vga nya pakai Nvidia atau ATI, ada langkah tambahan untuk menginstal binary drivers.
  • Hal lainnya seperti menginstal aplikasi tambahan lain, mengatur themes dll.

Jadi mau distronya pakai Fedora, openSUSE atau Ubuntu langkah-langkah tersebut kurang lebih sama. Karena mereka tidak bisa menyertakan hal-hal yang sebetulnya sudah menjadi kebutuhan primer pengguna desktop linux, terhambat oleh batasan-batasan lisensi.

Mari kita kutuk rame-rame!

Kesal karena rutinitas yang gak perlu itu? Soal lisensi codec-codec multimedia, mari kita kutuk rame-rame si RIAA dan MPAA!

Distro linux juga harus dikutuk terkait pemilihan paket default. Misal, kok lebih memilih Totem dibanding VLC. Atau kok lebih memilih Evolution dibanding Thunderbird. Ya ya ya… tentu itu ada unsur subjektifnya juga. Tapi bukankah bisa diukur dengan jumlah penggunanya.

Mari kita sedikit ambil sampel, siapa yang masih pakai Evolution sebagai default mail client di linux? Ayo ngacung!

Vi still the best :D

Punya beberapa koleksi editor di Linux saya ini, tapi ternyata vi masih yang paling oke. Buktinya saat saya mencoba mengedit file xml yang besarnya kurang lebih 10MB (sekitar 186 ribu baris), yang masih cukup responsif membukanya hanya gedit dan vim. Komodo edit saya yang biasa digunakan otak-atik skrip python, malah ngehang :(

Tapi, untuk masalah potong-potong, vim masih tetep lebih enak. Goto line di gedit lambaaat banget. Padahal cara yang tercepat utk cara asal potong ini adalah goto line sekian, lalu hapus baris sisanya. Dan cara itu kalau di VIM cepet banget. Kebayang kalau filenya 100 MB misalnya, editor lain dipastikan colaps duluan :))

Jadi kenapa harus dipotong-potong tuh file XML? Karena eh karena file itu hanya bisa diimport maksimum sebesar 2MB. Sedangkan filenya jauh lebih besar dari 2MB, jadi terpaksa harus dipotong-potong. Masalahnya gak bisa asal potong, harus dipotong diposisi baris yang pas (XML file gitu loh hehehe).

Ya sudahlah… intinya VIM is the best :P

Upgrade dari Etch ke Lenny

Seperti tradisi sebelumnya, upgrade dari satu versi ke versi yang terbaru di Debian tidaklah sulit. Yang perlu dilakukan adalah ganti repositori, update dan dist-upgrade saja. Hari ini saya juga melakukan upgrade ke versi debian yang baru-baru ini di rilis.

Ubah /etc/apt/sources.list seperti berikut, saya kebetulan menggunakan mirror komo.vlsm.org,

deb http://komo.vlsm.org/debian/ lenny main contrib non-free
deb http://komo.vlsm.org/debian-security/ lenny/updates main contrib non-free

Lalu jalankan perintah berikut:

apt-get update
apt-get dist-upgrade

Setelah menjawab beberapa pertanyaan seputar konfigurasi sistem baru, debian 5.0 langsung terpasang. Pengalaman hari ini upgrade dua server tidak ada kendala sama sekali.

So, selamat mengupgrade server debian Anda :D

Memperkenalkan FOSS ke Anak-Anak

Saya tidak akan bercerita tentang bagaimana seharusnya kurikulum pendidikan komputer di sekolah karena saya tidak kompeten untuk berbicara soal itu. Saya mau cerita bagaimana memperkenalkan FOSS ke ponakan saya yang masih bersekolah kelas 4 dan kelas 2 SD.

Lalu bagaimana saya memperkenalkan FOSS kepada mereka? Yang saya tahu ponakan saya pake komputer cuma untuk main game. Kalau main PS sudah bosen mereka pindah main game di komputer. Mungkin karena game-gamenya lucu-lucu (saya tidak pernah menginstal game kekerasan di komputer, cukup game kecil yang membuat mereka bisa bermain-main). Jadi saya akan pakai cara ini, memperkenalkan game di linux kepada mereka.

Install Ubuntu di PC

Suatu ketika ponakan saya minta game baru di komputernya. Akhirnya saya tunjukkan game fronzen bubble di laptop saya (di Ubuntu). Lalu saya ajak bermain berdua di frozen bubble. Seru juga ternyata, dan karena ponakan saya ada 3 (termasuk yang masih 3 tahun), akhirnya saya coba instal ubuntu di komputer rumah (dual boot dengan Windows) agar mereka bisa main frozen buble tanpa perlu berebutan main di laptop saya.

Continue reading