<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cecep Mahbub &#187; linux</title>
	<atom:link href="http://ngadimin.org/tag/linux/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ngadimin.org</link>
	<description>Mac, Linux, IT and other random things</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Jan 2011 06:36:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Menghitung Memori Yang Sekarang Sedang Digunakan oleh Aplikasi</title>
		<link>http://ngadimin.org/2010/06/29/menghitung-memori-yang-sekarang-sedang-digunakan-oleh-aplikasi/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2010/06/29/menghitung-memori-yang-sekarang-sedang-digunakan-oleh-aplikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jun 2010 13:11:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Linux]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[memory]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1680</guid>
		<description><![CDATA[Menghitung memori yang terpakai oleh sebuah program yang sedang berjalan di Linux itu agak ribet. Anda bisa melihat/menghitungnya dari output perintah ps, atau pmap. Tapi apa yang Anda lihat bukanlah apa yang terpakai. Harus dihitung dulu. Dan disini saya tidak &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2010/06/29/menghitung-memori-yang-sekarang-sedang-digunakan-oleh-aplikasi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menghitung memori yang terpakai oleh sebuah program yang sedang berjalan di Linux itu agak ribet. Anda bisa melihat/menghitungnya dari output perintah <tt>ps</tt>, atau <tt>pmap</tt>. Tapi apa yang Anda lihat bukanlah apa yang terpakai. Harus dihitung dulu. </p>
<p>Dan disini saya tidak sedang ingin membicarakan hal yang rumit. Yang rumit silakan di googling saja. Ada yang sudah berbaik hati, membuatkan <em>python script</em> yang bisa digunakan untuk menghitung alokasi memori per proses/aplikasi/program. </p>
<p>Ambil <a href="http://www.pixelbeat.org/scripts/ps_mem.py">ps_mem.py</a>, skrip yang sudah lama ada, tapi entah memang google yang menyembunyikannya, atau saya yang tidak mencari sehingga baru tahu hari ini <img src='http://ngadimin.org/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></p>
<pre class="brush: plain; light: true; title: ; notranslate">sudo ./ps_mem.py</pre>
<p>Berikut contoh hasil keluaran python script di atas, di jalankan di hostingan Linode VPS saya.</p>
<pre class="brush: plain; light: true; title: ; notranslate">
Private  +   Shared  =  RAM used       Program 

  4.0 KiB +  35.5 KiB =  39.5 KiB       getty
 28.0 KiB +  29.5 KiB =  57.5 KiB       atd
  4.0 KiB +  73.5 KiB =  77.5 KiB       upstart-udev-bridge
  0.0 KiB +  84.5 KiB =  84.5 KiB       udevd (3)
 96.0 KiB +  24.0 KiB = 120.0 KiB       dhclient3
 84.0 KiB +  58.5 KiB = 142.5 KiB       cron
116.0 KiB + 187.5 KiB = 303.5 KiB       master
264.0 KiB +  87.0 KiB = 351.0 KiB       ntpd
208.0 KiB + 201.5 KiB = 409.5 KiB       qmgr
256.0 KiB + 208.0 KiB = 464.0 KiB       tlsmgr
404.0 KiB +  84.5 KiB = 488.5 KiB       rsyslogd
348.0 KiB + 189.5 KiB = 537.5 KiB       pickup
480.0 KiB + 112.5 KiB = 592.5 KiB       init
  1.2 MiB +  55.5 KiB =   1.2 MiB       bash
764.0 KiB +   1.2 MiB =   1.9 MiB       sshd (3)
  2.1 MiB + 404.0 KiB =   2.5 MiB       python2.6
  2.6 MiB + 848.5 KiB =   3.4 MiB       nginx (5)
  4.2 MiB +   2.6 MiB =   6.8 MiB       apache2 (5)
 11.1 MiB + 117.5 KiB =  11.2 MiB       mysqld
 57.0 MiB + 562.0 KiB =  57.5 MiB       php5
---------------------------------
                         88.1 MiB
=================================
</pre>
<p>Tuh kan&#8230; yang boros itu php nya, bukan apachenya. Sebelum ada yang bertanya, saya pasang Nginx di depan Apache + suExec/FastCGI + php5.</p>
<p>Btw, di tempat mengunduh skript tadi banyak loh skrip lain yang menarik. Silakan <a href="http://www.pixelbeat.org/scripts/">dilihat-lihat</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2010/06/29/menghitung-memori-yang-sekarang-sedang-digunakan-oleh-aplikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Then and Now</title>
		<link>http://ngadimin.org/2010/04/25/then-and-now/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2010/04/25/then-and-now/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 15:56:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Opini]]></category>
		<category><![CDATA[desktop]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1656</guid>
		<description><![CDATA[Membaca planet Ubuntu, sepertinya lagi rame nampilin desktop jaman dulu dan desktop jaman sekarang. Then and Now, My Desktop: Then and Now, Then and Now Meme dan masih banyak lagi. Silakan lihat sendiri di planet Ubuntu. Kalau mengenang jaman lalu, &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2010/04/25/then-and-now/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca planet Ubuntu, sepertinya lagi rame nampilin desktop jaman dulu dan desktop jaman sekarang. <a href="http://leogg.wordpress.com/2010/04/23/then-and-now/">Then and Now</a>, <a href="http://family.ubuntu-fl.org/mhall/my-desktop-then-and-now/">My Desktop: Then and Now</a>, <a href="http://jonathancarter.co.za/2010/04/24/then-and-now-meme/">Then and Now Meme</a> dan masih banyak lagi. Silakan lihat sendiri di <a href="http://planet.ubuntu.com/">planet Ubuntu</a>. </p>
<p>Kalau mengenang jaman lalu, saya pertama kali kenal justru FreeBSD. Kalau tidak salah versi pertama yang saya kenal itu FreeBSD 2.2.8. Maklum kampus tempat saya ngekost, mayoritas menganut mahzab FreeBSD. Jadi oleh senior-senior, saya juga diajarkan FreeBSD juga. Dan rasa-rasanya saya juga belum pernah memakai FreeBSD ini untuk desktop, di jaman itu terlalu nekad kalau menggunakan FreeBSD buat dekstop.</p>
<p>Kalau linux, pertama kali ngelihat kayaknya RedHat versi 5.2 (agak lupa juga persisnya). Trus lebih sering berkutat dengan Mandrake 6.1 dan versi berikutnya s.d tahun 2003 (tentu diselang-seling dengan distro lain untuk coba-coba). Setelah itu berkenalan dengan Gentoo. Saat pake linux Gentoo lah saya mulai ngeblog, dan salah satu screenshot terlama yang pernah tercatat di blog ini bisa Anda lihat di bawah ini.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a title="Desktop Screenshot 3 April 2004 by Cecep Mahbub, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/ngadimin/265981046/"><img src="http://farm1.static.flickr.com/106/265981046_401a2561a4.jpg" alt="Desktop Screenshot 3 April 2004" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">Desktop Screenshot 3 April 2004, Gentoo dengan Gnome 2.4.2</p></div>
<p>Kembali lagi ke linux jaman dulu. Linux jaman dulu memang tidak senyaman sekarang. Apalagi kalau berhubungan dengan dunia multimedia. Saat menggunakan Mandrake 6.1 linux hanya bisa muter mp3 (beruntung waktu itu sudah ada xmms). Trus untuk muter VCD susahnya minta ampun. Biasanya saya copy file .dat lalu diputer pakai mpg123. Itu pun dengan resolusi yang gak bisa di bikin full screen. </p>
<p>Office, Excel? wah masa-masa sebelum openoffice lahir adalah masa kegelapan buat linux. Jadi jangan tanya bagaimana repotnya bertukar dokumen dengan pengguna OS lain. Browser juga sama. Yang terbaik waktu itu hanya Netscape 4.x yang sangat-sangat berat untuk dijalankan. Buka beberapa windows saja, sudah terasa berat (waktu itu belum ada tab ya). Jadi internet di linux sebelum firefox adalah masa kegelapan juga.</p>
<p>Satu lagi yang terasa agak lucu juga. Entah sampai tahun kapan linux punya masalah ini. Di linux itu kalau mau membuka atau nge-mount CD itu susahnya minta ampun (artinya harus di mount manual gitu loh). Mandrake pernah membuat inovasi yang samanya supermount, tapi tidak pernah bisa berjalan dengan sempurna, seseringnya crash. </p>
<p>Oke-oke cukup nostalgianya. Saya tidak akan cerita bagaimana kenalan dengan Debian dan Ubuntu. Terlalu panjang ceritanya. Sekarang mari kita sambut Ubuntu 10.04 LTS yang beberapa hari lagi akan di rilis. Mudah-mudahan saya ada waktu untuk mencicipinya. Sudah tujuh bulan lebih saya jarang berinteraksi dengan Linux di desktop. Tulisan ini pun saya tulis di Mac OS X Snow Leopard <img src='http://ngadimin.org/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2010/04/25/then-and-now/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rutinitas Setelah Instalasi Desktop Linux</title>
		<link>http://ngadimin.org/2009/11/18/rutinitas-setelah-instalasi-desktop-linux/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2009/11/18/rutinitas-setelah-instalasi-desktop-linux/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 16:55:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Opini]]></category>
		<category><![CDATA[fedora]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[opensuse]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1592</guid>
		<description><![CDATA[Coba Anda perhatikan, tentunya buat yang pernah menginstal desktop linux, ada beberapa hal rutin yang biasa dilakukan setelah instalasi linux untuk keperluan desktop. Atur repositori, kalau bisa ada pakai mirror lokal di Indonesia. Hemat bandwidth dan jauh lebih cepet. Instal &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2009/11/18/rutinitas-setelah-instalasi-desktop-linux/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Coba Anda perhatikan, tentunya buat yang pernah menginstal desktop linux, ada beberapa hal rutin yang biasa dilakukan setelah instalasi linux untuk keperluan desktop. </p>
<ul>
<li>Atur repositori, kalau bisa ada pakai mirror lokal di Indonesia. Hemat bandwidth dan jauh lebih cepet.</li>
<li>Instal codec-codec multimedia. Biar bisa dengerin musik, memainkan berkas mp3.</li>
<li>Instal codec multimedia untuk film, tidak lupa untuk menginstal VLC juga.</li>
<li>Instal plugin di firefox, yang paling penting instal flash-plugin dan jre. Plugin lainnya rasanya bisa diabaikan (ada yang masih suka baca pdf di browser?</li>
<li>Instal font windows, biar ngewebnya bisa lebih enak dilihat mata.</li>
<li>Yang vga nya pakai Nvidia atau ATI, ada langkah tambahan untuk menginstal binary drivers.</li>
<li>Hal lainnya seperti menginstal aplikasi tambahan lain, mengatur themes dll.</li>
</ul>
<p>Jadi mau distronya pakai Fedora, openSUSE atau Ubuntu langkah-langkah tersebut kurang lebih sama. Karena mereka tidak bisa menyertakan hal-hal yang sebetulnya sudah menjadi kebutuhan primer pengguna desktop linux, terhambat oleh batasan-batasan lisensi. </p>
<h2>Mari kita kutuk rame-rame!</h2>
<p>Kesal karena rutinitas yang gak perlu itu? Soal lisensi codec-codec multimedia, mari kita kutuk rame-rame si RIAA dan MPAA! </p>
<p>Distro linux juga harus dikutuk terkait pemilihan paket default. Misal, kok lebih memilih Totem dibanding VLC. Atau kok lebih memilih Evolution dibanding Thunderbird. Ya ya ya&#8230; tentu itu ada unsur subjektifnya juga. Tapi bukankah bisa diukur dengan jumlah penggunanya.</p>
<p>Mari kita sedikit ambil sampel, siapa yang masih pakai Evolution sebagai default mail client di linux? Ayo ngacung!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2009/11/18/rutinitas-setelah-instalasi-desktop-linux/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vi still the best :D</title>
		<link>http://ngadimin.org/2009/03/04/vi-still-the-best-d/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2009/03/04/vi-still-the-best-d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 13:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngoprek]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>
		<category><![CDATA[vi]]></category>
		<category><![CDATA[vim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1356</guid>
		<description><![CDATA[Punya beberapa koleksi editor di Linux saya ini, tapi ternyata vi masih yang paling oke. Buktinya saat saya mencoba mengedit file xml yang besarnya kurang lebih 10MB (sekitar 186 ribu baris), yang masih cukup responsif membukanya hanya gedit dan vim. &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2009/03/04/vi-still-the-best-d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Punya beberapa koleksi editor di Linux saya ini, tapi ternyata vi masih yang paling oke. Buktinya saat saya mencoba mengedit file xml yang besarnya kurang lebih 10MB (sekitar 186 ribu baris), yang masih cukup responsif membukanya hanya gedit dan vim. Komodo edit saya yang biasa digunakan otak-atik skrip python, malah ngehang <img src='http://ngadimin.org/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p>Tapi, untuk masalah potong-potong, vim masih tetep lebih enak. Goto line di gedit lambaaat banget. Padahal cara yang tercepat utk cara asal potong ini adalah goto line sekian, lalu hapus baris sisanya. Dan cara  itu kalau di VIM cepet banget. Kebayang kalau filenya 100 MB misalnya, editor lain dipastikan colaps duluan <img src='http://ngadimin.org/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Jadi kenapa harus dipotong-potong tuh file XML? Karena eh karena file itu hanya bisa diimport maksimum sebesar 2MB. Sedangkan filenya jauh lebih besar dari 2MB, jadi terpaksa harus dipotong-potong. Masalahnya gak bisa asal potong, harus dipotong diposisi baris yang pas (XML file gitu loh hehehe).</p>
<p>Ya sudahlah&#8230; intinya VIM is the best <img src='http://ngadimin.org/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2009/03/04/vi-still-the-best-d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Skrip Sederhana utk membackup semua database di PostgreSQL</title>
		<link>http://ngadimin.org/2009/02/25/skrip-sederhana-utk-membackup-semua-database-di-postgresql/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2009/02/25/skrip-sederhana-utk-membackup-semua-database-di-postgresql/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 11:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aplikasi Linux]]></category>
		<category><![CDATA[Ngoprek]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Linux]]></category>
		<category><![CDATA[backup]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[postgresql]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1351</guid>
		<description><![CDATA[Karena kalau di copy paste di wordpress kadang suka error, saya salin di wiki saja. http://wiki.ngadimin.org/Contekan_PostgreSQL#Skrip_Backup_Sederhana]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena kalau di copy paste di wordpress kadang suka error, saya salin di wiki saja.<br />
<a href="http://wiki.ngadimin.org/Contekan_PostgreSQL#Skrip_Backup_Sederhana">http://wiki.ngadimin.org/Contekan_PostgreSQL#Skrip_Backup_Sederhana</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2009/02/25/skrip-sederhana-utk-membackup-semua-database-di-postgresql/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Upgrade dari Etch ke Lenny</title>
		<link>http://ngadimin.org/2009/02/16/upgrade-dari-etch-ke-lenny/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2009/02/16/upgrade-dari-etch-ke-lenny/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 10:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Linux]]></category>
		<category><![CDATA[debian]]></category>
		<category><![CDATA[lenny]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1341</guid>
		<description><![CDATA[Seperti tradisi sebelumnya, upgrade dari satu versi ke versi yang terbaru di Debian tidaklah sulit. Yang perlu dilakukan adalah ganti repositori, update dan dist-upgrade saja. Hari ini saya juga melakukan upgrade ke versi debian yang baru-baru ini di rilis. Ubah &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2009/02/16/upgrade-dari-etch-ke-lenny/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti tradisi sebelumnya, upgrade dari satu versi ke versi yang terbaru di Debian tidaklah sulit. Yang perlu dilakukan adalah ganti repositori, update dan dist-upgrade saja. Hari ini saya juga melakukan upgrade ke versi debian yang baru-baru ini di rilis.</p>
<p>Ubah /etc/apt/sources.list seperti berikut, saya kebetulan menggunakan mirror komo.vlsm.org,</p>
<pre>deb http://komo.vlsm.org/debian/ lenny main contrib non-free
deb http://komo.vlsm.org/debian-security/ lenny/updates main contrib non-free</pre>
<p>Lalu jalankan perintah berikut:</p>
<pre>apt-get update
apt-get dist-upgrade</pre>
<p>Setelah menjawab beberapa pertanyaan seputar konfigurasi sistem baru, debian 5.0 langsung terpasang. Pengalaman hari ini upgrade dua server tidak ada kendala sama sekali. </p>
<p>So, selamat mengupgrade server debian Anda <img src='http://ngadimin.org/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2009/02/16/upgrade-dari-etch-ke-lenny/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperkenalkan FOSS ke Anak-Anak</title>
		<link>http://ngadimin.org/2008/11/23/memperkenalkan-foss-ke-anak-anak/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2008/11/23/memperkenalkan-foss-ke-anak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Nov 2008 16:38:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Opini]]></category>
		<category><![CDATA[foss]]></category>
		<category><![CDATA[game]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/?p=1218</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak akan bercerita tentang bagaimana seharusnya kurikulum pendidikan komputer di sekolah karena saya tidak kompeten untuk berbicara soal itu. Saya mau cerita bagaimana memperkenalkan FOSS ke ponakan saya yang masih bersekolah kelas 4 dan kelas 2 SD. Lalu bagaimana &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2008/11/23/memperkenalkan-foss-ke-anak-anak/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tidak akan bercerita tentang bagaimana seharusnya kurikulum pendidikan komputer di sekolah karena saya tidak kompeten untuk berbicara soal itu. Saya mau cerita bagaimana memperkenalkan FOSS ke ponakan saya yang masih bersekolah kelas 4 dan kelas 2 SD.</p>
<p>Lalu bagaimana saya memperkenalkan FOSS kepada mereka? Yang saya tahu ponakan saya pake komputer cuma untuk main game. Kalau main PS sudah bosen mereka pindah main game di komputer. Mungkin karena game-gamenya lucu-lucu (saya tidak pernah menginstal game kekerasan di komputer, cukup game kecil yang membuat mereka bisa bermain-main). Jadi saya akan pakai cara ini, memperkenalkan game di linux kepada mereka.</p>
<p><strong>Install Ubuntu di PC</strong></p>
<p>Suatu ketika ponakan saya minta game baru di komputernya. Akhirnya saya tunjukkan game fronzen bubble di laptop saya (di Ubuntu). Lalu saya ajak bermain berdua di frozen bubble. Seru juga ternyata, dan karena ponakan saya ada 3 (termasuk yang masih 3 tahun), akhirnya saya coba instal ubuntu di komputer rumah (dual boot dengan Windows) agar mereka bisa main frozen buble tanpa perlu berebutan main di laptop saya.</p>
<p><span id="more-1218"></span></p>
<p>Setelah sekitar 1 jam (instal dan setting sana-sini) akhirnya selesai juga instalasi ubuntu di komputer itu. Dan dengan segera memperkenalkan game-game yang ada di linux. Mulai dari frozen buble yang sudah saya sebut tadi, game catur, game kartu sampai potato guys. Yang diluar dugaan game-game kecil itu yang saya perkirakan tidak akan disukai mereka malah jadi game favorit mereka.</p>
<p>Misal, si potato guys. Game yang mengajak pemainnya mendandani tokoh kentang, dengan baju, sepatu, dan lain-lainnya sesuai dengan kehendak si pemain. Saya kira game ini bisa membuat anak-anak lebih kreatif, ya walaupun untuk lucu-lucuan saja.</p>
<p>Setelah berminggu-minggu saya instal komputer itu dengan Ubuntu, ternyata respons dari ponakan saya cukup bagus. Buat mereka tidak ada bedanya baik menggunakan Windows atau Ubuntu. Sekarang malah ponakan saya yang kelas 2 SD, sering ngajak main catur pake GNU chess. Dan setiap saya minta menyalakan komputer mereka selalu tanya, &#8220;Om, pilih ubuntu ya?&#8221; maksudnya pilih OS ubuntu saat menu grub muncul di layar komputer.</p>
<p>Ternyata saya cukup sukses memperkenalkan Ubuntu ke mereka, dengan cara yang mereka sukai (buktinya mereka sudah kenal Ubuntu hehe). Anda juga bisa meniru cara saya, memperkenalkan FOSS sejak dini kepada anak-anak dengan cara yang mereka sukai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2008/11/23/memperkenalkan-foss-ke-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menambah Harddisk di Linux</title>
		<link>http://ngadimin.org/2008/06/22/menambah-harddisk-di-linux/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2008/06/22/menambah-harddisk-di-linux/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jun 2008 16:43:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wiki]]></category>
		<category><![CDATA[debian]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/2008/06/22/menambah-harddisk-di-linux/</guid>
		<description><![CDATA[Punya server Linux tapi partisinya sudah mulai penuh. Solusi pindahkan data ke harddisk tambahan. Punya server Linux dan datanya ingin dibackup ke media lain untuk dijadikan offline backup. Karena data yang mau dibackup sangat besar (ratusan giga), sangat tidak efisien &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2008/06/22/menambah-harddisk-di-linux/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Punya server Linux tapi partisinya sudah mulai penuh. Solusi pindahkan data ke harddisk tambahan.</p>
<p>Punya server Linux dan datanya ingin dibackup ke media lain untuk dijadikan <em>offline backup</em>. Karena data yang mau dibackup sangat besar (ratusan giga), sangat tidak efisien jika dibackup ke media dvd. Dan karena budget juga terbatas, <em>tape drive</em> bukan pilihan. Solusi terbaik masukkan harddisk eksternal dan backup data kesana.</p>
<p>Pertanyaannya, bagaimana cara mengenali harddisk baru di Linux? Tenang&#8230; sebetulnya caranya sangat mudah. Buat yang belum mengetahui, silahkan ikuti petunjuk singkat <a href="http://wiki.ngadimin.org/Menambah_Harddisk_di_Linux">cara menambah harddisk baru di Linux</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2008/06/22/menambah-harddisk-di-linux/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makin Cinta Sama Amarok</title>
		<link>http://ngadimin.org/2008/03/17/makin-cinta-sama-amarok/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2008/03/17/makin-cinta-sama-amarok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 06:40:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aplikasi Linux]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/2008/03/17/makin-cinta-sama-amarok/</guid>
		<description><![CDATA[Selama menggunakan amarok sebagai mp3 player di laptop ini, semakin banyak fitur-fitur yang tereksplor. Salah satunya kemampuan amarok menampilkan lirik yang diambil dari situs lirik di internet. Dan bukan itu saja, dia juga bisa menampilkan data artis yang diambil dari &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2008/03/17/makin-cinta-sama-amarok/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama menggunakan amarok sebagai mp3 player di laptop ini, semakin banyak fitur-fitur yang tereksplor. Salah satunya kemampuan amarok menampilkan lirik yang diambil dari situs lirik di internet. Dan bukan itu saja, dia juga bisa menampilkan data artis yang diambil dari wikipedia.</p>
<p>Tapi sayang semua fitur itu membutuhkan koneksi internet, jadi tidak semua bisa menikmatinya. Tapi kalau kita lagi punya akses internet, lumayan bisa berkaraoke menghilangkan kejenuhan saat kerja <img src='http://ngadimin.org/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></p>
<p><img id="image435" alt="amarok_lyric.jpg" src="http://ngadimin.org/wp-content/uploads/2008/03/amarok_lyric.jpg" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2008/03/17/makin-cinta-sama-amarok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>mod_proxy di apache</title>
		<link>http://ngadimin.org/2008/03/12/mod_proxy-di-apache/</link>
		<comments>http://ngadimin.org/2008/03/12/mod_proxy-di-apache/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Mar 2008 10:08:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cecep Mahbub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngoprek]]></category>
		<category><![CDATA[apache]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngadimin.org/2008/03/12/mod_proxy-di-apache/</guid>
		<description><![CDATA[Punya webserver di LAN tapi ingin bisa diakses dari internet? Untuk menjawab kebutuhan itu bisa menggunakan berbagai cara. Ganti IP (menjadi IP yang bisa diakses dari internet), pake port forwarding atau menggunakan reverse proxy. Nah salah satu yang gw suka &#8230; <a href="http://ngadimin.org/2008/03/12/mod_proxy-di-apache/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Punya webserver di LAN tapi ingin bisa diakses dari internet? Untuk menjawab kebutuhan itu bisa menggunakan berbagai cara. Ganti IP (menjadi IP yang bisa diakses dari internet), pake port forwarding atau menggunakan reverse proxy.</p>
<p>Nah salah satu yang gw suka adalah mod_proxy di apache2. Agar webserver di LAN bisa diakses dari internet, biasanya gw bikin virtualhost yang melakukan proxy ke webserver di LAN. Contoh konfigurasi:</p>
<p><img alt="mod_proxy.jpg" id="image431" src="http://ngadimin.org/wp-content/uploads/2008/03/mod_proxy.jpg" /></p>
<p>Enaknya menggunakan mod_proxy ini bila dibandingkan port forwarding, kita bisa bikin virtualhost yang banyak untuk mengakses banyak webserver di LAN. Sedangkan dengan port forwarding hanya terbatas untuk satu IP LAN saja.</p>
<p>Off Topic: Sialan nih wordpress, susah banget nulis code spt di atas. Sptnya harus install <a href="http://lorelle.wordpress.com/2007/02/23/wordpress-plugins-that-help-you-write-code/">plugin</a> nih. Tapi malesssss <img src='http://ngadimin.org/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngadimin.org/2008/03/12/mod_proxy-di-apache/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced (User agent is rejected)

Served from: ngadimin.org @ 2012-02-05 20:44:47 -->
