Category Archives: Kolom Opini

Saat Iklan Memenuhi Layar

Dulu saya suka misuh-misuh sama detik. Saya suka meledek kalau detik itu adalah portal iklan. Sekarang giliran kompas yang gak sopan. Seluruh layar ditutup sama iklan!

Kompas.Com, mana beritanya?

Kompas.Com, Mana beritanya?

Saya sebetulnya ingin mensupport portal berita tersebut, dengan tidak memblock iklan-iklan yang muncul dilayar. Tapi apa boleh dikata, media tersebut sudah melecehkan pembacanya sendiri. Sekalinya buka pakai google chrome, muncullah iklan yang memenuhi layar! Susah juga berpindah hati dari Firefox dan Adblock Plus.

Pertanyaan, mengapa media lokal tidak bisa seperti facebook yang bisa lebih menghormati usernya?

ISP Mana Saja yang Nutup Port 25?

Ceritanya salah satu user saya komplen. Katanya gak bisa ngirim email pake smtp yang sudah diset di kantor. Setelah cek-sana sini, dan konfirmasi bolak-balik, akhirnya disimpulkan koneksi dari komputer dia ke port 25 di smtp kantor, gak bisa. Dia waktu itu pake IndosatM2.

Beberapa minggu kemudian, saya mau membalas email pagi-pagi banget, sebelum berangkat ke kantor. Lama… email gak ke kirim-kirim, dan akhirnya di cancel saja. Ternyata setelah di cek, sama seperti kasus user di atas, port 25 di smtp kantor tidak bisa saya akses. Waktu itu saya pake SMART.

Beberapa hari setelah kasus saya, ada lagi user yang komplen tidak bisa kirim email dari rumah. Dan tebakan Anda tepat! Port 25 di block juga. User yang ini pakai FastNet.

Jadi sudah ada 3 ISP yang mem block outgoing connection ke port 25. Entah alasannya apa, tapi yang saya sesalkan kok tidak ada sosialisai ke pengguna ISP tersebut. Padahal jelas-jelas port 25 itu sangat penting, karena kebanyakan konfigurasi pengiriman email masih menggunakan port itu.

Pertanyaannya sekarang, ISP mana lagi menyusul?

Mbah Surip dan Media yang Memanfaatkannya

“Tapi sekarang Mbah Surip sudah menjadi industri. Dia sudah menjadi ‘budak’ yg bikin orang makmur. Bayangkan tivi-tivi memanfaatkan dia, sehari bisa 6 episode. Dan mereka gak pernah mau tahu kalau Mbah Surip sudah tua dan masih menggunakan motor ke mana-mana,” tegas Bertha lagi.

Kini Bertha mengaku miris melihat Mbah Surip yang tumbang di masa kejayaannya. “Akhirnya ia diperas habis-habisan. Saat ini saya dalam kesedihan mutlak,” imbuhnya lagi.

Sumber: detik.com

Saya sangat setuju dengan pendapatnya Mbak Bertha, dan memang begitulah dunia pertelevisian di Indonesia :(

Orang Indonesia Sayang Gadget

Gak percaya? Coba lihat deh sekeliling Anda. Pasti ada yang pakai salah satu dari ini

  • screen protector utk layar ha-pe
  • sarung ha-pe, mo yang pake silika atau yang pake plastik yang mirip karet
  • setelah dikasih sarung dari silika atau karet, masih dimasukin juga ke wadah hape (ini biasanya ibu-ibu)
  • screen protector utk laptop
  • keyboard protector (itu tuh… plastik yang buat nutupin keyboard) di laptop

Jadi sebetulnya model hape tuh gak usah keren-keren, toh ntar juga dibungkus sama plastik karet itu. Dan kayaknya semua yang ada layarnya, pasti dikasih protektor :D

Joki Tergiur Rp 30 Juta, Kuliah Pun Sirna…

BANDUNG, KOMPAS.com — IS (18) menuruni tangga dengan langkah gontai begitu keluar dari ruangan sidang. Sesekali tangan kirinya meremas dada sebelah kanannya, seolah menahan sesak yang luar biasa.

Rekomendasi yang dikeluarkan dari kampus yang dihasilkan oleh Komisi Penegakan Norma Kemahasiswaan Institut Teknologi Bandung (ITB) terhadap dirinya dan 10 rekannya pada sore hari itu mungkin terasa sangat berat baginya.

IS, mahasiswa Teknik Kimia ITB ini, adalah satu dari 14 mahasiswa ITB yang terlibat dalam sindikat perjokian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Dia tertangkap basah saat melakukan tindakan tidak terpuji ini di Makassar, Sulawesi Selatan, awal Juli 2009 lalu.

Itu adalah kutipan dari sebuah berita di Kompas hari ini.

Dan kutipan berikutnya adalah:

Widyo Nugroho pun meminta Forum Rektor Indonesia mendaftarhitamkan para mahasiswa ini. Mereka tidak diberi kesempatan lagi kuliah di universitas yang lain.

Hmm… kok ITB, khususnya Pak Widyo Nugroho terkesan emosional dalam menangani kasus ini. Saya kira DO sudah merupakan hukuman terberat buat mereka. Janganlah ditambah dengan embel-embel blacklist, sehingga mereka kehilangan hak untuk melanjutkan kuliah ditempat lain. Itu namanya menghukum dengan menghilangkan masa depan mereka.

Yang menjadi pertanyaan, sekarang forum rektor berani tidak memblacklist orang tua & anak pelaku perjokian itu. Mereka juga kan terlibat dalam kasus ini. Hayoooo… :D

Penilaian Pribadi Seputar Pasangan Capres/Cawapres 2009

surat_suara

Surat Suara (foto diambil dari facebook, tanpa ijin)

Terus terang saya masih bingung dalam pemilu kali ini akan memilih siapa. Ini dikarenakan pasangan capres/cawapres yang ada tidak memuaskan buat saya. Saya coba bahas menurut pandangan subjektif saya pribadi.

Pasangan No. 1

Ibu Megawati, maaf ya Bu dari dulu saya sudah kurang sreg dengan gaya kepemimpinan Ibu. Mungkin gara-gara diamnya itu loh, jadi saya tidak tahu apa yang sedang Ibu pikirkan.

Pak Prabowo, sayang Anda tidak menjadi Capres. Kalau menjadi capres tentu suasananya menjadi sedikit berbeda, saya yakin dukungan untuk Anda akan lebih banyak, dan pertarungan pilpress bakal lebih seru. Bersanding dengan Ibu Mega, sedikit kurang menguntungkan buat Anda. Harusnya Anda mungkin bersanding dengan Mas Pram, Anda Capres, Mas Pram cawapres :D

Pasangan No. 2

Pak SBY, terus terang simpati saya terhadap Bapak sudah mulai berkurang jauh. Gaya kepemimpinan yang lambat, kebanyakan rapat sana-sini cenderung tidak efektif. Coba dipikirkan lagi deh, menaikkan harga BBM perlu waktu sampai satu bulan, dan selama itu pula harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Trus efek lainnya, bensin dan solar hilang dari pasaran, karena orang tahu harga BBM akan naik dan ada waktu untuk menimbunnya, jadi berharap dapet untung dari situ.

Belum lagi kasus Blue Energy, Supertoy yang cenderung bikin wibawa Anda semakin turun. Coba dibereskan orang-orang disekitar Anda. Secara subjektif, saya juga kurang menyukai tim kampanye Anda sekarang, rada alergi terutama sama Pak Rizal Mallarangeng… entah kenapa.

Pak Budiono, saya cenderung oke dengan bapak yang satu ini. Saya yakin walau orang-orang mengatakan dia itu neolib atau apa, beliau tidak seperti itu. Kalau misalnya dia berpendapat proyek-proyek skala besar harusnya jangan diambil dari APBN/APBD, dan sebaiknya APBN dan APBD itu dipake utk bangun di daerah, itu kan neolib yang baik (subjektif saya sih).

Pasangan No. 3

Pak JK, Anda ini jagonya debat. Dari semua debat capres, saya kasih nilai A buat Anda (kayak dosen saja, hehe). Dan saya yakin kalau pemirsa yang lain juga objektif, pemenang dari semua debat adalah beliau ini. Jika capres lain cenderung gak menghibur, terlalu kaku, maka Pak JK inilah yang mencairkan suasana. Bisa Anda bayangkan kalau yang debat hanya Ibu Megawati sama Pak SBY, bisa-bisa cuma diem-dieman hahaha.

Yang saya suka dari beliau adalah gaya kepemimpinan yang spontanitas dan bersemangat. Slogan Lebih Cepat, Lebih Baik memang cocok buat beliau.

Tapi… ada yang saya kurang suka dari kampanye-kampanye Pak JK. Terlalu banyak janji loh Pak. Kalau ntar misalnya kepilih, uang untuk program-program itu dari mana? Soal gaya menyerang ke SBY, saya kadang setuju kadang tidak. Yang setujunya, mungkin dengan diserang secara frontal oleh Pak JK ini, Pak SBY bisa lebih berubah menjadi lebih cepat dan lebih baik :D

UPDATE: Saya juga kurang suka dengan protes berlebihan soal DPT. Sudahlah gak usah terlalu dibahas, dan minta pilpres ditunda segala. Maju, mo kalah mo menang hajar! Ini juga berlaku buat pasangan no. 1.

Pak Wiranto, hmm… Anda sedikit kurang beruntung. Walau sama-sama jendral, saya kira dukungan untuk Anda paling sedikit. Pak SBY tentu pemenangnya, kedua Pak Prabowo, ketiga baru Anda (ini itung-itungan dalam khayalan otak saya). Dalam debat-debat kemarin, saya melihat Anda lebih kalem dibanding Pak Prabowo, yang itu memang bagus ketika Anda bersanding dengan Pak JK yang cenderung lebih meledak-ledak. Yang saya gak suka dari Anda, partainya saja, Hanura. Ya lagi-lagi ini subjektif :D

* * *

So… nanti tanggal 8 Juli 2009, saya mau pilih siapa? Kecenderungan sudah ada. Saya lebih memilih Pasangan No. 3, tapi ini belum pasti. Saya masih mempertimbangkan untuk tidak memilih, jika pada saat itu hati saya berkata lain.

Seperti di tulisan saya sebelumnya, Indonesia memang harus siap dengan perubahan, termasuk salah satunya untuk tidak alergi dengan orang-orang yang cenderung memilih golput. Golput karena pilihan terbatas, yang seseringnya terpaksa harus memilih yang terbaik dari pilihan terjelek yang tersedia.

Ikut Menderita Gara-Gara Perubahan Jalur di Cawang

Yang saya maksud bukan jalur angkot, atau jalur kendaraan pribadi. Itu sih tidak ada yang berubah ya. Yang berubah adalah jalur bis luar kota.

Yang saya rasakan sendiri adalah Bis Primajasa jurusan Garut – Lebak Bulus yang dulunya keluar di Cawang UKI, sekarang jalurnya diubah. Sekarang kalau dari arah Cikampek menuju Jakarta, jalurnya diubah ke Tol Cikunir, dan keluar di Pasar Rebo.

Efeknya? Mungkin buat yang tinggal di daerah Pasar Rebo dan sekitarnya jadi lebih cepet. Tapi buat saya, artinya itu nambah 1 jam lagi! Yang biasanya tinggal turun di Cawang, lalu pilih ojek dan langsung menuju kantor di Gatot Subroto Semanggi, sekarang tidak bisa lagi. Yang biasanya dari garut jam 6 pagi, bisa nyampe di kantor jam 10 siang (paling telat), eh sekarang jam 11 baru bisa nyampe kantor. Parah…

Jadi inget tulisan Paman Tyo, dan sepertinya saya harus membiasakan diri saja. Gak akan protes, gak akan setuju. Mari bersikap apatis, dan selalu mencoba untuk membiasakan diri dengan semua kebijakan baru. Orang Indonesia memang harus dituntut bisa beradaptasi dengan semua perubahan, termasuk ganti presiden mungkin? :P